HA SB IPB Kembangkan Potensi Jagung di Konawe

Wednesday April 12th, 2017 | Humas SB-IPB

(BOGOR, 12/4/2017) Sebagai sumber karbohidrat, jagung merupakan salah satu komoditas strategis karena bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pakan ternak dan industri lain yang bernilai ekonomi tinggi, baik untuk pasar lokal maupun global. Dalam lima tahun terakhir, kebutuhan jagung sebagai bahan baku industri pakan, makanan, dan minuman telah meningkat sebesar 10-15% per tahun. Namun, kebutuhan tersebut tampaknya belum bisa dipenuhi lantaran sejumlah kendala.

Beberapa kendala
Salah satu kendala pengembangan produksi jagung nasional adalah pergudangan yang belum memadai dan belum mampu menampung hasil produksi saat panen raya. Selain itu, alat dan mesin pengolahan hasil masih terbatas disusul rendahnya mutu jagung yang dihasilkan petani terutama akibat komponen mutu kadar air dan kadar aflatoksin. Penyebabnya adalah panen yang umumnya tiba bersamaan dengan musim hujan, ditambah keterbatasan sarana pascapanen, terutama dryer dan corn sheller.

Akibatnya, kebutuhan pada masa paceklik tidak bisa dipenuhi. Di sisi lain, produksi tersebut belum sesuai dengan kebutuhan pabrikan yang memerlukan pasokan dalam jumlah dan mutu tertentu secara kontinu. Karena produksi jagung tidak merata setiap bulan, maka pada waktu tertentu pabrikan kekurangan bahan baku jagung. Lalu saat panen raya, harga jagung di tingkat petani cenderung jatuh di bawah harga normal yang tentu merugikan mereka. Belum adanya jaminan harga pada saat panen menyebabkan ketidakpastian bisnis jagung rakyat dari sisi pendapatan. Belum lagi lemahnya kelembagaan petani jagung yang menyebabkan harga ditentukan oleh konsumen, tengkulak, dan pengumpul.

Masalah lainnya adalah kurangnya literasi keuangan dan akses terhadap sumber dana, terutama untuk penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan). Pada waktu tertentu beberapa saprotan sulit diperoleh seperti kasus terbatasnya benih hibrida dan pupuk bersubsidi di tingkat petani.

Pengembangan jagung di Konawe
Menjawab persoalan tersebut, Himpunan Alumni (HA) Sekolah Bisnis (SB) IPB berusaha berpartisipasi aktif dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan (termasuk pertanian dalam arti luas). HA SB IPB mengusulkan program integrasi jagung dan ternak sebagai program unggulan pemberdayaan masyarakat secara terstruktur. Program ini dititikberatkan pada program budidaya jagung dan penggemukan sapi bakalan di lima kecamatan, di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. “Kami telah berkoordinasi dengan Bupati Konawe dan mendapat respons yang sangat positif untuk menjalankan program ini,” ujar Iyung Pahan, Ketua Divisi Bisnis, Kewirausahaan, & Kemitraan HA SB IPB.

HA SB IPB telah mempersiapkan kawasan seluas kurang lebih 100 ha yang telah dibuat menjadi fasilitas kantor, perumahan, riset, perpustakaan, kandang, penanaman kelapa sawit dan legume cover crop, penanaman hijauan pakan Bracharia sp. untuk dipersiapkan menjadi inti kawasan sentra pertanian jagung rakyat terpadu.

Kawasan pertanian terpadu ini melibatkan kerja sama dengan masyarakat Konawe dan akan diperluas ke lima kecamatan di sekitar kecamatan Lambuya. Masing-masing kecamatan akan difasilitasi untuk membentuk kelompok tani yang kemudian ditingkatkan menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Setiap BUMDES dikelola oleh pengurus dan anggota dengan luas wilayah sekitar 1.000 ha. HA SB IPB akan membantu dan memberikan fasilitasi untuk membentuk BUMDES dan membuat agar perangkat BUMDES tersebut mampu menyusun proposal teknis pertanian terpadu berbasis jagung kepada Dinas Pertanian Kabupaten Konawe dan Provinsi Sultra.

Dalam rangka mempersiapkan SDM lokal, HA SB IPB akan menginisiasi perguruan tinggi komunitas (community college) berupa program Diploma I Pertanian Terpadu Berbasis Komoditas Jagung. Dalam hal ini, IPB akan menyediakan dosen dan modul pembelajaran, sementara Pemda Konawe akan menyediakan sarana dan prasarana. Mahasiswa D1 ini berasal dari para pemuda petani (lulusan SMA) yang nantinya akan bekerja di kawasan pertanian terpadu sebagai anggota kelompok tani dan/atau anggota BUMDES.

Model bisnis yang dipakai
Model pengembangan sentra pertanian terpadu yang diterapkan berupa kerja sama multipihak yang melibatkan HA SB IPB, BUMDES, kelompok tani ternak, dan instansi pemerintah terkait. HA SB IPB akan memberikan program pendampingan untuk capacity building BUMDES dan kelompok tani ternak plus fasilitasi untuk menjamin kepastian harga jual produk melalui skema contract farming.

HA SB IPB akan bekerja sama dengan industri pakan ternak guna membangun fasilitas pengolahan biji jagung (dryer, corn sheller, dan silo) di kabupaten Konawe sehingga memiliki kemampuan menjalankan program jangka panjang yang berkelanjutan, baik dari sisi pasokan maupun keuangan. “Percepatan pelaksanaan program ini pada tahun anggaran 2017 diharapkan dapat membantu berkontribusi dalam pencapaian target swasembada jagung nasional,” ujar Iyung lebih lanjut. (IK)

Tinggalkan Balasan